tetaplah putih

2011
02.04

Tetaplah…

Menjadi jujur di lingkaran kebohongan,

menjadi terpercaya di belantara khianat,

menjadi murah hati di keringnya hati-hati kini,

menjadi setetes sapa di lautan angkuhnya dunia…

Tetaplah..

Bahagiakan dunia yang durjana, nista

muliakan kasih yang terperangkap nafsu, gila

percayai cinta sejati yang terkubur dengki, ada

tetaplah..

Menjadi sinar walau di halau gerhana,
samar-samar, namun ada

menyerupai udara walau tak nampak,
tapi nyata

mewangi diantara bebauan munafik,
sesakkan dada

tetaplah…

Menjadi baik diantara buruk

menjadi cinta diantara nafsu

menjadi jiwa yang ku damba

tetaplah…
putih diantara hitam

cerita inspirasi II

2010
09.14

NAMA            : HAYU NING DEWI

NRP                : I 14100010

LASKAR         : 9

“Bersedekah tak akan mengurangi hartamu, justru semakin menambah!” Memang, jika menurut hitungan matematis, kalimat diatas tak akan masuk logika kita. Tapi pernahkah kau mencoba membuktikannya? Saya adalah bukti nyata dari kalimat diatas.

Saya selalu diberi uang jajan oleh orang tua per bulan sejak saya masuk SMA. Dan menjadi kebiasaan bagi saya untuk memotong 2,5% uang saku saya tersebut untuk saya sedekahkan. Hasilnya, saya tak pernah merasa kekurangan uang. Ada saja hal-hal ajaib yang saya temui jika saya mengalami krisis keuangan. Contohnya, ketika saya lupa membawa uang saku ke sekolah, saya akan menemukan uang yang terselip di saku baju atau saku rok saya, atau tiba-tiba saja teman saya memberikan uang kepada saya, katanya ia mau membayar hutangnya.

Sering juga saya terlupa untuk menyedekahkan uang saku saya. Hasilnya, uang saya selalu tak cukup untuk jajan sebulan, tak tahu apa sebabnya. Entah saya akan semakin rakus untuk membeli keperluan yang sebenarnya tak penting, atau uang saya tiba-tiba saja hilang.

“Sebelum memulai kegiatan, hendaknya berdoa!” mungkin kalimat itu sudah tidak asing lagi mampir di telinga kita, saking seringnya kita mungkin seringkali mengabaikannya. Tapi bagiku kalimat itu sangat berarti.

Suatu hari, saya pernah lupa berdo’a sebelum ujian. Ketika itu saya terlambat, dan sangat terburu-buru sehingga terlupa untuk membaca doa. Hasilnya, materi-materi yang telah saya pelajari semalam sebelum ujian itu hilang dari ingatan saya. Padahal biasanya, jika saya membaca doa sebelum ujian, materi-materi yang saya pelajari akan mudah saya ingat.

Demikianlah sedikit pengalaman saya, semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mengamalkan segala nasehat yang diberikan kepada kita. Percayalah! Akan ada hikmah dari segala sesuatu yang kita perbuat!

cerita inspirasi I

2010
09.14

NAMA            : HAYU NING DEWI

NRP                : I 14100010

LASKAR        : 9

Suara ramai ibu-ibu yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar riuh rendah dari sebuah rumah yang letaknya memang cukup jauh dari perkotaan. Kau tahu? Sebelumnya keadaan sekitar lingkunganku tak begitu, bahkan membaca Al-Qur’an saja tetangga-tetanggaku tak bisa.

Namanya Sahria, seorang ibu rumah tangga yang memiliki empat orang anak –salah satunya adalah saya sendiri- berusia paruh baya, yang menurutku membawa perubahan besar di sekitarku. Semangatnya yang membara untuk terus belajar tak mau ia pendam sendiri, ia selalu membagi semangtnya kepada orang-orang di sekitarnya. Saat teman-temannya bergosip ria khas ibu-ibu, ia mengalihkan pembicaraan, bercuap sebentar mengganti topik. Tak lain tak bukan mengajak agar teman-temannya mau belajar mengaji.

Kau tahu? Ber-amar ma’ruf nahi munkar itu tak segampang membalik telapak tangan. Maka ibuku harus terus-terusan tanpa putus asa agar teman-temannya mau belajar mengaji, mulai dari memanggil seorang guru ke rumah kami, dan mengajak teman-temannya ke rumah, membuat makanan dan minuman untuk disediakan. Ia melakukan itu semua dengan ikhlas, tanpa pamrih sedikitpun.

Atau jika temannya menerima ‘tawaran’nya untuk belajar mengaji, ibuku bersedia menjadi guru. Tak heran jika ba’da maghrib akan ada dua orang tamu yang datang untuk belajar mengaji. Salah satunya adalah ibu Tun yang umurnya sudah cukup tua. Awalnya, ia sama sekali tak tahu al-Qur’an.  Kau tahu? Betapa sulitnya mengajari seseorang yang telah cukup tua. Ibuku pun harus ekstra sabar dalam membimbingnya. Kata ibuku “belajar itu tak kenal umur, seseorang akan berhenti belajar ketika ia sudah ada di liang kubur.”

Perubahan besar di lingkunganku tak sampai disitu saja. Setelah tetanggaku bisa mengaji, ibuku lalu memanggil seorang guru untuk memberikan tausiyah. Pengajian ini dilakukan seminggu sekali di rumahku. Hasilnya, jika kau datang ke daerahku , kau akan melihat ibu-ibu yang sangat anggun karena jilbab telah menutupi auratnya.

Dialah ibuku, inspiratorku, ia membuktikan  padaku bagaimana menjadi seorang manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya. Ia adalah pembaharu sejati bagiku, jauh diatas para reformator yang hanya unjuk rasa menunggu perubahan tanpa gerakan nyata untuk merubah.